Jumat, 04 Juli 2008

The Mystery of the Quran Secret Power


Penulis: Dr. Khalid bin Abdul Karim Al-Laahim
Hidup di bawah naungan Al-Qur’an adalah sebuah kenikmatan. Kenikmatannya tidak bisa dirasakan oleh siapapun kecuali mereka yang telah merasakannya. Karenanya, ketika Rasulullah SAW wafat Ummu Aiman Ra terus berduka dan menangis. Ketika hal itu ditanyakan kepadanya, beliau menjawab, “Aku menangis bukan aku tidak tahu bahwa apa yang ada di sisi Allah SWT lebih baik bagi Rasulullah SAW, tetapi aku menangis karena wahyu telah terputus dari langit..”

Begitu besar pengaruh Al-Qur’an yang menghujam ke dalam jiwa dan dada para shahabat. Melalui Al-Qur’an-lah mereka mendapatkan petunjuk yang mulia, dari Al-Qur’an-lah mereka belajar peradaban dunia, dari zaman purba kala hingga dunia ini binasa, dan dengan Al-Qur’an-lah mereka bisa menaklukkan dunia dan menorehkan sejarah emas yang tidak akan pernah dilupakan oleh manusia.

Lantas apa rahasianya? Mereka mengetahui betul isi Al-Qur’an dan kandungannya serta memahami ilmunya dengan benar. Tidaklah berlebihan jika seorang tokoh Barat yang bernama Rainier Gino setelah ke-Islamannya berkata, “Seandainya bukan karena jasa ulama Islam dan para filosufnya, niscaya Barat masih dalam keterpurukan kebodohan dan kegelapannya.”

Buku The Mystery Of The Quran Secret Power yang ada di hadapan Anda sekarang ini akan melejitkan pemahaman dan pengetahuan Anda terhadap Al-Qur’an. Temukan pengaruhnya yang luar biasa pada diri dan kehidupan Anda.

Selamat menikmati!
DAAR AN-NABA'

Rabu, 02 Juli 2008

Daya Gerak Reformasi,


Oleh Aminuddin Siregar
Murtadha Muthahhari, adalah pemikir sistematis. Ia tergolong ahli filsafat sejarah Islam terkemuka. Sehingga tidaklah mengherankan, kalu beliau berusaha menerapkan hampir seluruh pemikirannya tentang kenyataan sosial-politik kontemporer di dasarkan pada filsafat sejarah Islam. Termasuk pemikirannya tenatang gerakan-gerakan reformasi sosial yang terus berkembang di kalangan umat. Tapi, Ia keburu syahid, oleh berondongan timah panas, pada tanggal 2 Mei 1979. Iran berkabung, Ayatullah Khomeini, ketika itu menyatakan, 3 Mei 1979 adalah Hari Berkabung Nasional Iran.

Sebagai mana Al-Ghazali –yang lebih dikenal sebagai Imam Ghazali— melakukan gerakan-gerakan reformasi Islam. Selain mengandung muatan sosial poltik juga mengandung unsur sosial-intelektual. Ini antara lain dapat kita ketahui lewat kayra monumentalnya yang berjudul “Ihya Ulumuddin” (Menghidupkan Kembali Ilmu-ilmu Agama), ternyata sangat progresif sifatnya.

Gerakan semacam inilah kemduian yang oleh Muthahhari disebut gerakan merefleksikan reaksi terhadap penjajahan politik, ekonomi dan kultur Barat. Bagi Muthahhari, seorang Muslim mestilah sebagai reformator. Karena perannya sebagai reformator, maka ia adalah seorang penyokong perbaikan. Maksudnya, agar reformasi tidak terlihat jemu, tetapi penuh gairah.

Muthahhari, --dalam bukunya “Gerakan Islam Abad-20”-- mengemukakan bahwa, reformasi berarti memberikan tata aturan atau tata tertib, yang dapat mengarahkan masyarakat ke arah tujuan tertentu. Dari pendapat itu nampak bahwa, tujuan paling sederhana dari reformasi ialah memperbaiki segala sesuatu yang telah rusak, semua yang tidak beraturan, dan karena itu perlu diarahkan kembali agar menjadi lebih teratur dan tertib.

Kalau dalam konteks reformasi yang kini tengah bergulir di Indonesia misalnya. Menjadi sangat relevan untuk dicermati, lantaran sejak kita sepakat melakukan reformasi, sejak itu pula kita telah membuat sejumlah aturan dan berbagai tata tertib dalam berbagai bidang kehidupan. Khususnya dalam bidag politik, memang telah sangat nyata sekali adanya perbaikan. Namun di sektor lain masih terlihat bahwa reformasi, mirip sebuah angan-angan belaka.

Masalhanya, apa yang mesti kita lakukan untuk melawan kecenderungan otoritarianisme, apabila reformasi yang kini tengah kita bangun ditafsirkan sebagai angan-angan yang amat sukar untuk diwujudkan ? Sementara, waktu terus bergulir. Perkembangan politik terus bergerak menuju terbentuknya masyarakat politik yang kian dewasa, cerdas, tanggap dan amat kritis terhadap gerak-gerik elit politik dan aparat yang beberapa waktu lalu, oleh Hasyim Muzadi, diindikasikan mengobral kecemasan, (Rakyat Merdeka, 16-11-03).

Model Otoritarianisme

Hingga hari-hari belakangan ini, kita masih menjumpai model-model otoritarian dalam mengatasi persoalan yang muncul kepermukaan. Arti kata, masih saja terkesan adanya kesewenang-wenangan. Padahal yang dikehendaki oleh reformasi ialah perwujudan dari perbaikan yang telah kita lakukan. Sehingga tidak lagi muncul percakapan miring, kesalahfahaman dan kekacauan, apalagi budaya kekerasan politik.

Dilihat dari perjalanan reformasi yang kini sudah berusia hampir lima tahun. Harusnya kita telah keluar dari lingkaran poltik yang arogan. Bahwa perpolitikan kita tanpa fitnah dan kekerasan. Kita juga mestinya telah lebih lugas dalam berdemokrasi. Lebih santun dalam menyikapi segala sesuatu yang menyangkut aspirasi politik rakyat yang berkembang. Lebih peduli dan responsif terhadap penderitaan rakyat.

Kalau tata aturan yang dianggap kurang bagus, tata tertib yang selama ini belum memadai, maka sulit diharapkan adanya suasana tertib, suasana tenteram, atau kondisi yang lebih kondusif dari sekarang. Atau bisa saja aturannya sudah ada, tetapi tidak ditaati, sehingga menimbulkan pertengkaran, prasangka, dan curiga-mencurigai. Akibatnya tidak pernah ditemukan keseuaian satu dengan lainnya.

Dengan mengadakan reformasi kemungkinan munculnya kekacauan dan fitnah akan dapat dihindari. Sebab di dalam setiap reformasi, selalu lebih menampakkan transparansi perubahan yang terjadi, semauanya akan lebih jelas. Katakanlah misalnya, secara sosial terjadi kerusuhan politik, yang mengakibatkan massa publik tidak terkendali dan menjurus pada tujuan yang kita semua tidak mengiinginkannya. Ini bisa terjadi sebagai akibat dari kurangnya daya gerak reformasi sebagaimana dikehendaki semua pihak dan kalangan.

Kelihatannya, suatu regim politik, meskipun mengaku sebagai pemerintahan konstitusional, tidak dengan serta merta mampu menghalau otoritarianisme. Karena itu, perlu diadakan gerakan-gerakan pembaharuan. Dalam kaitan inilah menurut Muthahhari reformasi diperlukan. Dan ternyata melalui gerakan-gerakan reformasi itulah kebangkitan politik kaum Muslimin menjadi amat penting dan merupakan kebutuhan utama.

Daya Gerak Reformasi

Kalau kebangkitan politik kaum Muslimin memang dapat menciptakan sesuatau keadaan masyarakat lebih baik, maka kembali yang perlu dipikirkan oleh kaum Muslim di dunia politik ialah memperkuat daya gerak reformasi itu sendiri. Sehingga despotisme dari dalam dan imperialisme baru dari luar tidak akan menampakkan wajahnya dalam sistem pemerintahan yang demokrastis, kecuali kalau praktek-praktek budaya kekerasan politik terus dipelihara.

Sebab dengan menguatnya daya gerak reformasi, maka demokrasi akan mampu mengungkap segala hal yang dianggap tidak bermoral dan sejumlah penyimpangan. Itu artinya kebangkitan demokrasi di negeri ini dimaksudkan untuk melenyapkan pembusukan politik yang sudah sekian lamanya. Karena apa yang dianggap orang sebagai hal yang tidak pada tempatnya sudah diperbaiki.

Kerusakan-kerusakan di masa lalu direparasi tuntas, Kita tidak lagi kesulitan untuk memahami keruwetan-keruwetan politik. Setiap warga masyarakat sebagai komunitas politik mendapat kesempatan untuk ikut ambil bagian dalam percaturan politik, apabila setiap orang sadar secara politik, bahwa ada sejumlah persyaratan, aturan, tata tertib, yang memungkinkan setiap orang untuk bisa menjadi caleg, misalnya, atau mendaftar jadi capres, umpamanya.

Kita mesti menemukan kembali semangat perjuangan. Sebab perjuangan politik itu menurut Muthahhari merupakan kewajiban religius. Itu sebabnya Muthahhari menganjurkan perlunya persatuan Islam untuk menghalau semua yang dibawa oleh kultur yang tidak sesuai dengan budaya dan norma politik masyarakat Indonesia. Nah ! bisakah partai-partai Islam Indonesia bersatu padu, misalnya ? Hanya aktivis parpolah yang mengetahui dan menjawabnya.

Sejalan dengan itu, bila perlu harus melakukan perlawanan terhadap setiap upaya menggerogoti persatuan dan kesatuan kita. Kekuatan yang dimiliki oleh nenek moyang kita, founding father dan para pendiri republik ini memang punya andil besar bagi terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Karena itu, mestilah dijaga citranya. Sekurang-kurangnya para elit politik atau elit partai tidak menimbulkan kesan yang mengakibatkan kemerosotan Ketahanan Nasional. Mari kita suksekan seluruh rangkaian pemilu mendatang ini. Perlu itu.

Dokumentasi Penulis

Bertukar guru, perluas wawasan

Diperbaharui pada: 10 Mei, 2008 - Published 12:02 GMT
Email kepada teman Versi cetak

Achmad Marzuq
Produser BBC Siaran Indonesia

HFS di Keighley, Inggris Utara
Holy Family School mengajar siswa usia SMP dan SMU
Setelah tiga jam perjalanan kereta api dari London, akhirnya saya tiba di kota kecil Keighley, di West Yorkshire, belahan utara Inggris.

Keithly beberapa dasawarsa lalu adalah salah satu kota industri wool dan katun.

Pada tahun 1960-an, para pengusaha Inggris mengimpor tenaga kerja murah dari Kashmir dan Bangladesh.

Para mantan pekerja migran dan keluarga mereka masih bertahan dan berkembang hingga hari ini ini.

Dan, sebuah masjid tak jauh dari stasiun Keighley seolah menjadi tanda keberadaan mereka.

Laporan dari HFS Keighley

Namun, yang akan kita tuju bukan masjid itu, melainkan sebuah sekolah katholik. Yaitu, Holy Family School (HFS), tempat dua guru Pesantren Darun Najah mengajar dalam rangka pertukaran guru pada bulan April.

Selepas ceramah dan doa bersama, para siswa Holy Family School dengan tertib meninggalkan aula untuk menuju kelas masing-masing. Demikian juga para guru, termasuk Mustofa Hadi Chirzin dan Siti Cholilah dari Pesantren Daru Najah.

Ustadzah Cholilah memperkenal Indonesia di kelas geografi

Pagi itu ibu Cholilah, yang mengenakan jilbab, mengajarkan geografi untuk siswa year seven atau kurang lebih setara dengan kelas 1 SMP di Indonesia.

Topik yang dia pilih mengenalIndonesia.

Dengan alat peraga komputer, dia memperkenalkan keragaman etnis dan agama, kesenian, hingga kekayaan alam serta hidangan khas Indonesia.

Saat sesi tanya-jawab tiba, para murid berebut mengacungkan jari. Begitu dipersilakan, siswa sekolah Katholik ini mengajukan beberapa pertanyaan, yang menggelitik rasa ingin tahu mereka, meski itu mungkin sesuatu yang dianggap lumrah di Indonesia.

Berapa lama siswa Darun Najah belajar setiap hari? Kapan jam pelajaran usai? Dan, apakah mereka mengenakan seragam? Demikian tanya mereka.

Ekspresi penuh keheranan beberapa kali muncul dari para siswa demi mendengar jawaban Ustadzah Kholilah.

Di kelas lain, Pak Mustofa Hadi Chirzin memperkenalkan bahasa Indonesia kepada siswa kelas 9, atau setara dengan kelas tiga SMP.

Di penghujung pelajaran yang berlangsung sekitar 50 menit, Pak Mustofa juga mengundang siswa Holy Family School untuk bertanya.

Bagaimana siswa perempuan dan laki-laki Pesantren Darun Najah bisa saling mengenal, kalau kelas mereka dipisahkan berdasarkann jenis kelamin, tanya seorang siswa.

Kerendahan hati

Kehadiran Ustaz Mustofa Chirzin dan Ustadzah Siti Cholilah dari Pesantren Darun Najah di sekolah menengah Katholik di Inggris ini adalah bagian dari pertukaran guru di antara kedua lembaga pendidikan, yang telah berlangsung sekitar dua tahun.

Ustadz Mustofa memperkenalkan bahasa Indonesia di HFS

Bulan November lalu, dua guru Holy Family Catholic School mendapat giliran untuk bertandang ke Pesantren Darun Najah.

Selain mengajar, kedua guru juga mencicipi suasana pesantren selama hampir dua pekan.

Emma McConaghy, yang sehari-hari mengajar sejarah, menuturkan kesannya.

"Ketika saya berkunjung ke Darun Najah saya benar-benar memperoleh wawasan yang berbeda tentang agama Islam," kata Emma McConaghy.

Saya bisa katakan, orang-orang di Darun Najah membuat saya lebih menghormati agama Islam

Emma McConaghy
Guru HFS Keighley

"Saya bisa katakan, orang-orang di Darun Najah membuat saya lebih menghormati agama Islam," tandasnya.

Menurut penuturan Emma, dia ikut tinggal dan tidur di dalam pesantren. "Kami berada di sana 24 jam, bukannya berada di sana dua jam lalu pulang," tuturnya.

"Kami menyaksikan seluruh kegiatan rutin sehari-hari mereka. Kami dengar suara azan pukul 4 pagi," katanya.

"Kami saksikan bocah-bocah pergi ke masjid lima kali sehari. Kami telah merasa ikut menjalani kehidupan mereka," tuturnya.

"Kami sangat terkesan dengan komitmen mereka terhadap agama. Tidak hanya itu, juga juga dengan kerendahan hati yang menyertai komitmen mereka," ujarnya

Dari penuturan ibu guru Emma McConaghy, tidak berlebihan jika disimpulkan pertukaran guru antara Holy Family School di Keighley, Inggris dan Pesantren Darun Najah di Jakarta selatan berhasil menjalin dialog dan meningkatkan saling pengertian.

Manfaat praktis

Ustadz Mustofa Chirzin, yang juga duduk di manajemen Pesantren Darun Najah, mengatakan, lembaganya memetik banyak pelajaran dari tuan rumahnya di Inggris.

Merah putih dan bendera St George berkibar di pelataran HFS

Sebelum bertolak ke Keighley, menurut Mustofa, pengetahuannya tentang Inggris "sangat terbatas".

Ustadz Mustofa mengatakan, sebelumnya dia selalu membayangkan kehidupan sangat berbeda dari yang biasa dia lihat di Indonesia, yaitu semuanya non-muslim.

"Tapi, ternyata, menurut kami dalam praktiknya (kehidupan di sini) sebetulnya adalah Islami. Mungkin bukan Islam, tapi Islami," katanya. "Dalam arti, bagaimana sopan santun sangat dijunjung, kebersihan sangat diperhatikan."

Menurut Mustofa, kerjasama antar lembaga pesantren dan sekolah Katholik ini akan dikembangkan dengan mengintensifkan komunikasi dua arah melalui internet.

Menurut kami dalam praktiknya (kehidupan di sini) sebetulnya adalah Islami. Mungkin bukan Islam, tapi Islami...

Mustofa Chirzin
Ustadz Pesantren Darun Najah

Rekan Ustad Mustofa Chirzin, Ustadzah Siti Cholilah juga melihat manfaat praktis dari hubungan antara kedua lembaga pendidikan, meski keduanya berasal dari latar belakang agama dan budaya yang sangat berbeda.

Salah satunya adalah penggunaan bahasa Inggris di kalangan guru. "Guru-guru menjadi aktif berbahasa (Inggris)," tutur Cholilah.

Bergulirnya pertukaran guru Pesantren Darun Najah dan Holy Family Catholic School ini tentu membuat bangga mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair.

Saat berkunjung ke Jakarta tahun 2006, Tony Blair melontarkan gagasan agar ratusan sekolah di Inggris menjalin kemitraan dengan sekolah di Indonesia, yang saat itu dia sebut "mitra sangat penting" dalam membina saling pengertian antar-umat berbagai agama.

Dan, Holy Family School termasuk salah satu sekolah yang menidaklanjuti gagasan Pak Blair.

Komunitas muslim

Sebagian orang mungkin yang bertanya-tanya mengapa sekolah Katholik Inggris yang satu ini menjalin hubungan dengan komunitas muslim di tempat yang jauh, seperti Pesantren Darun Najah, mengingat kota Keighley sendiri memiliki penduduk muslim yang cukup besar.

Kota kecil Keighley berada di West Yorkshire, Inggris utara
Kota kecil Keighley berada di West Yorkshire, Inggris utara

Manajer spesialis bahasa pada Holy Family Catholic School, Eileen Llewellyn, mengatakan, sekolahnya perlu menjalin kontak dengan komunitas, yang mewakili sosok umat Islam yang berbeda dengan yang selama ini mereka kenal.

"Saya rasa fantastis bahwa sebuah sekolah muslim menjalin hubungan dengan sekolah Katholik, sebab siswa kami bisa belajar banyak dari agama lain," katanya.

Dia menambahkan, agama sangat penting bagi siswa sekolah Katholik seperti HFS. "Dan, sangat bagus bagi mereka untuk melihat atau mendengar budaya yang sama sekali berbeda. Dan, mereka belajar menghormati budaya lain," tuturnya.

Menurut Llewellyn, langkah seperti ini bagus untuk kawasan di West Yorkshire ini, sebab Keighley yang berada di pinggiran Bradford. "Terjadi banyak ketegangan antar-kelompok komunitas tertentu di Bradford," tuturnya

Mengingat, wilayah tersebut juga memiliki ada banyak warga muslim. "Dan, sebagai sekolah Katholik, yang sebagian besar siswanya kulit putih, menghargai budaya lain adalah hal yang bagus," tambahnya.

Komentar siswa

Bagi guru seperti Eileen Llewellyn, gagasan untuk lebih mengenal komunitas muslim di Indonesia lain mungkin lebih mudah dicerna. Tapi, bagaimana dengan para muridnya?
Siswa HFS menikmati istirahat makan siang di halaman sekolah

Salah seorang siswa Holy Family School mengatakan, mereka dulu sama sekali tidak mengenal Indonesia.

Guru mereka, yang pulang dari Darun Najah, memperkenalkan mereka dengan Indonesia.

Murid laki-laki tersebut bahkan bisa memperkenalkan diri dalam bahasa Indonesia.

Sedangkan, siswi ini mengatakan, dia kerap mendengar nama Indonesia setelah bencana tsunami tahun 2004.

Dan, setelah berkenalan dengan beberapa guru dari pesantren Darun Najah, mereka mengaku mereka kini tertarik untuk menggali lebih banyak informasi.

Dua murid Holy Family School mengatakan, Indonesia negara hebat, seraya mengutarakan minatnya untuk bisa berkunjung ke Indonesia suatu hari kelak.

Dan, seorang murid perempuan HFS berpendapat, mengenal bangsa dan agama lain akan membuat dia lebih memahami bangsa lain.

REFORMASI, MIRIP SEBUAH ANGAN-ANGAN


Oleh Aminuddin Siregar (Penulis Bekerja Pada Pusdiklat Regional Depdagri Bukittinggi)

Isma’il Raj’I Al-Faruqi, --adalah penulis buku “Islam and Cultur”, edisi Indonesia diterbitkan oleh MIZAN, Bandung 1984-- menolak relativisme kultural. Menurutnya kebudayaan Islam bukanlah relativisme kebudayaan, lantaran ia ditujukan bagi semua manusia dan segala zaman. Isma”il Raj’i Al-Faruqi, adalah juga penggagas islamisasi pengetahuan, yang ingin menetapkan relevansi antara Islam dengan seluruh pengetahuan modern.

Tindakan itulah yang oleh Ziauddin Sardar disebut sebagai upaya berlebihan dan tidak dapat membantu mengembangkan epistimologi pragmatis. Tindakan itu lanjut Sardar seperti menempatkan kereta di depan kuda (Sardar, Masa Depan Islam 1987)

Al-Faruqi, memformulasikan kebudayaan sebagai kesadaran akan nilai-nilai dalam kesemestaannya, yang pada tingkat terendah mengandung makna kesadaran intuitif dari setiap nilai (dalam Islam and Cultur). Itu artinya kekuatan intuitif ikut ambil bagian dalam setiap mewujudkan nilai-nilai itu sendiri.

Kalau formulasi ini kita terjemahkan kembali, maka dapat diasumsikan bahwa setiap orang dapat mengakses langsung segala sumber-sumber pengetahuan tanpa melalui campur tangan orang lain. Kewajiban seseorang untuk bisa memperoleh nilai kehidupannya memungkinkan setiap orang mengembangkan kepekaan dengan isyarat perilaku tertentu lantaran intuisi dikategorikan sebagai indikasi dari posisi objektif setiap orang.

Nampaknya, al-Faruki menginginkan perubahan seluruh warisan pengeahuan manusia dari sudut pendidikan Islam, sekaligus menawarkan metodologi dan program tindakan untuk melaksakannya. Ia dianggap sebagai seorang Muslim konservatif. Tetapi Ia juga termasuk eksponen paling berpengaruh dalam upaya mengislamkan sains.

Sebagai mana Al-Ghazali –yang lebih dikenal sebagai Imam Ghazali—melakukan gerakan-gerakan reformasi Islam. Selain mengandung muatan sosial poltik juga mengandung unsur sosial-intelektual. Ini antara lain dapat kita ketahui lewat karya monumentalnya yang berjudul “Ihya Ulumuddin” (Menghidupkan Kembali Ilmu-ilmu Agama), ternyata sangat progresif sifatnya.

Gerakan semacam inilah kemudian yang oleh Muthahhari disebut gerakan merefleksikan reaksi terhadap penjajahan politik, ekonomi dan kultur Barat. Bagi Muthahhari, seorang Muslim mestilah sebagai reformator. Karena perannya sebagai reformator, maka ia adalah seorang penyokong perbaikan. Maksudnya, agar reformasi tidak terlihat jemu, tetapi penuh gairah.

Muthahhari, --dalam bukunya “Gerakan Islam Abad-20”-- mengemukakan bahwa, reformasi berarti memberikan tata aturan atau tata tertib, yang dapat mengarahkan masyarakat ke arah tujuan tertentu. Dari pendapat itu nampak bahwa, tujuan paling sederhana dari reformasi ialah memperbaiki segala sesuatu yang telah rusak, semua yang tidak beraturan, dan karena itu perlu diarahkan kembali agar menjadi lebih teratur dan tertib.

Kalau dalam konteks reformasi yang kini tengah bergulir di Indonesia misalnya. Menjadi sangat relevan untuk dicermati, lantaran sejak kita sepakat melakukan reformasi, sejak itu pula kita telah membuat sejumlah aturan dan berbagai tata tertib dalam berbagai bidang kehidupan. Khususnya dalam bidang politik, memang telah sangat nyata sekali adanya perbaikan. Namun di sektor lain masih terlihat bahwa reformasi, mirip sebuah angan-angan belaka.

Masalahnya, apa yang mesti kita lakukan untuk melawan kecenderungan otoritarianisme, apabila reformasi yang kini tengah kita bangun ditafsirkan sebagai angan-angan yang amat sukar untuk diwujudkan ? Sementara, waktu terus bergulir. Perkembangan politik terus bergerak menuju terbentuknya masyarakat politik yang kian dewasa, cerdas, tanggap dan amat kritis terhadap gerak-gerik elit politik dan aparat yang beberapa waktu lalu, oleh Hasyim Muzadi, diindikasikan mengobral kecemasan, (Rakyat Merdeka, 16-11-03).

Model Otoritarianisme

Hingga hari-hari belakangan ini, kita masih menjumpai model-model otoritarian dalam mengatasi persoalan yang muncul kepermukaan. Arti kata, masih saja terkesan adanya kesewenang-wenangan. Padahal yang dikehendaki oleh reformasi ialah perwujudan dari perbaikan yang telah kita lakukan. Sehingga tidak lagi muncul percakapan miring, kesalahfahaman dan kekacauan, apalagi budaya kekerasan politik.

Dilihat dari perjalanan reformasi yang kini sudah berusia hampir lima tahun. Harusnya kita telah keluar dari lingkaran poltik yang arogan. Bahwa perpolitikan kita tanpa fitnah dan kekerasan. Kita juga mestinya telah lebih lugas dalam berdemokrasi. Lebih santun dalam menyikapi segala sesuatu yang menyangkut aspirasi politik rakyat yang berkembang. Lebih peduli dan responsif terhadap penderitaan rakyat.

Kalau tata aturan yang dianggap kurang bagus, tata tertib yang selama ini belum memadai, maka sulit diharapkan adanya suasana tertib, suasana tenteram, atau kondisi yang lebih kondusif dari sekarang. Atau bisa saja aturannya sudah ada, tetapi tidak ditaati, sehingga menimbulkan pertengkaran, prasangka, dan curiga-mencurigai. Akibatnya tidak pernah ditemukan keseuaian satu dengan lainnya.

Dengan mengadakan reformasi kemungkinan munculnya kekacauan dan fitnah akan dapat dihindari. Sebab di dalam setiap reformasi, selalu lebih menampakkan transparansi perubahan yang terjadi, semuanya akan lebih jelas. Katakanlah misalnya, secara sosial terjadi kerusuhan politik, yang mengakibatkan massa publik tidak terkendali dan menjurus pada tujuan yang kita semua tidak mengiinginkannya. Ini bisa terjadi sebagai akibat dari kurangnya daya gerak reformasi sebagaimana dikehendaki semua pihak dan kalangan.

Kelihatannya, suatu regim politik, meskipun mengaku sebagai pemerintahan konstitusional, tidak dengan serta merta mampu menghalau otoritarianisme. Karena itu, perlu diadakan gerakan-gerakan pembaharuan. Dalam kaitan inilah menurut Muthahhari reformasi diperlukan. Dan ternyata melalui gerakan-gerakan reformasi itulah kebangkitan politik kaum Muslimin menjadi amat penting dan merupakan kebutuhan utama.

Daya Gerak Reformasi

Kalau kebangkitan politik kaum Muslimin memang dapat menciptakan sesuatau keadaan masyarakat lebih baik, maka kembali yang perlu dipikirkan oleh kaum Muslim di dunia politik ialah memperkuat daya gerak reformasi itu sendiri. Sehingga despotisme dari dalam dan imperialisme baru dari luar tidak akan menampakkan wajahnya dalam sistem penerintahan yang demokratis, kecuali kalau praktek-praktek budaya kekerasan politik terus dipelihara.

Sebab dengan menguatnya daya gerak reformasi, maka demokrasi akan mampu mengungkap segala hal yang dianggap tidak bermoral dan sejumlah penyimpangan. Itu artinya kebangkitan demokrasi di negeri ini dimaksudkan untuk melenyapkan pembusukan politik yang sudah sekian lamanya. Karena apa yang dianggap orang sebagai hal yang tidak pada tempatnya sudah diperbaiki.

Kerusakan-kerusakan di masa lalu direparasi tuntas, Kita tidak lagi kesulitan untuk memahami keruwetan-keruwetan politik. Setiap warga masyarakat sebagai komunitas politik mendapat kesempatan untuk ikut ambil bagian dalam percaturan politik, apabila setiap orang sadar secara politik, bahwa ada sejumlah persyaratan, aturan, tata tertib, yang memungkinkan setiap orang untuk bisa menjadi caleg, misalnya, atau mendaftar jadi capres, umpamanya.

Kita mesti menemukan kembali semangat perjuangan. Sebab perjuangan politik itu menurut Muthahhari merupakan kewajiban religius. Itu sebabnya Muthahhari menganjurkan perlunya persatuan Islam untuk menghalau semua yang dibawa oleh kultur yang tidak sesuai dengan budaya dan norma politik masyarakat Indonesia. Nah ! bisakah partai-partai Islam Indonesia bersatu padu, misalnya ? Hanya aktivis parpolah yang mengetahui dan menjawabnya.

Sejalan dengan itu, bila perlu harus melakukan perlawanan terhadap setiap upaya menggerogti persatuan dan kesatuan kita. Kekuatan yang dimiliki oleh nenek moyang kita, founding father dan para pendiri republik ini memang punya andil besar bagi terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Karena itu, mestilah dijaga citranya. Sekurang-kurangnya para elit politik atau elit partai tidak menimbulkan kesan yang mengakibatkan kemerosotan Ketahanan Nasional. Mari kita suksekan seluruh rangkaian pemilu mendatang ini. Perlu itu.

Larangan Merokok di Bar Belanda

Diperbaharui pada: 01 Juli, 2008 - Published 11:57 GMT

Budaya bersantai di kafe, bar dan restoran umum di Eropa
Belanda menjadi satu lagi negara Eropa yang melarang merokok di bar dan restoran mulai hari ini.

Salah satu gedung bioskop membagikan rokok gratis Senin malam, beberapa jam menjelang larangan itu mulai berlaku.

Akan tetapi para perokok ganja di kafe-kafe ganja, yang dikenal dengan nama coffee shop, tetap dibolehkan merokok mariyuana selama tidak dicampur dengan tembakau.

Michael Veling, seorang pemilik coffee shop dan anggota serikat pengecer ganja di Amsterdam mengatakan, larangan merokok ini sebenarnya adalah kabar baik bagi para perokok ganja.


Kabar baiknya adalah, mereka tetap dibolehkan mengisap marijuana di coffee shop dan di tempat-tempat lain yang tidak dilarang

Michael Veling pengusaha coffe shop

"Mereka tidak dibolehkan merokok tembakau di dalam coffee shop," kata Veling.

"Kabar baiknya adalah, mereka tetap dibolehkan mengisap marijuana di coffee shop dan di tempat-tempat lain yang tidak dilarang," katanya.

Kubu lobi pro-rokok mengatakan, larangan itu akan menyebabkan bisnis mereka berkurang. Tapi, kubu lain mengatakan, berkurangnya bisnis itu akan tertutup oleh bisnis yang dihasilkan dari non-perokok yang semakin banyak keluar rumah.

Kamis, 19 Juni 2008

Pemilu 2009 Peluang Besar Kaum Muda Jadi Presiden

Pemilu 2009 Peluang Besar Kaum Muda Jadi Presiden
Getty ImagesBarack Obama
Kaum Muda Harus Bangkit dan Profesional/KompasTV
Artikel Terkait:
* Kaum Muda Dominasi Calon DPR PDI-P
* Kaukus Muda Golkar: Cukup Sudah JK Memimpin
* Dede Yusuf: Kemenangan Kaum Muda
* Pemimpin Muda Perlu Didorong
* Menpora: Kaum Muda Jangan Lupakan Sejarah

Kamis, 19 Juni 2008 | 20:38 WIB
JAKARTA, KAMIS - Barack Obama, tokoh muda yang maju jadi calon presiden (capres) Amerika Serikat (AS), terbukti telah menyemangati kaum muda di Indonesia. Pemilihan umum presiden dan wakil presiden (Pilpres) tahun 2009, diyakini akan ada kejutan.
Walau sekarang belum disebut-sebut namanya, akan ada kaum muda yang maju mencalonkan diri dan peluang untuk terpilih begitu besar. Kaum muda yang layak jadi pemimpin bangsa itu, tak sekadar muda usia (bawah lima puluh tahun), melainkan harus memenuhi beberapa persyaratan.
Prediksi yang lebih merupakan harapan itu terungkap dalam diskusi politik yang mengusung tema "PKS dan Kepemimpinan Kaum Muda" pada peluncuran majalah Biografi Politik edisi khusus Satu Abad Kebangkitan Nasional, Kamis (19/6) di Jakarta. Acara tersebut menampilkan Menteri Negara Pemuda dan Olahraga (Mennegpora) Adhyaksa Dault, Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Tifatul Sembiring, tokoh muda PDI Perjuangan Budiman Sudjatmiko, Pemimpin Redaksi Biografi Politik Yudi Latif, dan Pengamat Politik Khudori.
Adhyaksa Dault, yang menjadi Tokoh Muda Terpopuler hasil survei Reform Institute mengatakan, jika di berbagai kota/kabupaten dan provinsi di Indonesia kaum muda dipercaya masyarakat jadi wali kota/wakil wali kota, bupati/wakil bupati, serta gubernur/wakil gubernur, maka pada Pilpres 2009, kaum muda harus berani maju. Peluang terpilihnya pun cukup besar.
"Kaum muda harus berani melakukan perubahan. Berani berbuat, menyongsong Indonesia yang lebih baik. Jangan mau dan membiarkan reformasi ekonomi, reformasi hukum, dan reformasi sosial-budaya menjadi slogan-slogan yang membusuk. Jangan mau hukum menjadi alat kejahatan yang terorganisir dan sistematis. Jangan mau birokrasi jadi penyandera, beban bagi kemajuan, " kata Adhyaksa.
Menurut Menegpora, kondisi Indonesia yang lebih baik itu ditandai antara lain dengan hadirnya lembaga-lembaga hukum tidak kehilangan kredibilitas, lembaga-lembaga negara tidak kehilangan kepercayaan. "Dinamika dan dialog tentang persoalan bangsa harus dibangun, sebagaimana dulu dilakukan Natsir, Soekarno, Hatta, Sudjatmoko. Namun, yang terpenting NKRI adalah harga mati bagi kita," tegasnya.
Tifatul Sembiring mengatakan, pemimpin masa depan yang diharapkan tidak hanya sekadar muda usia, melainkan juga harus segar pemikirannya dan mendalami betul persoalan bangsa. Saat ini masalah utama yang dihadapi bangsa kita ialah kemiskinan, kebodohan, orang sakit tak bisa berobat, dan pesimisme.
"Persoalan bangsa tidak bisa diatasi dengan mengiklankan diri kita. Persoalan bangsa tidak bisa diatasi dengan tebar pesona, tak bisa diatasi dengan nyanyi-nyanyian. Juga tak bisa diatasi, misalnya, dengan main film," paparnya.
Menurut Presiden PKS ini, kaum muda yang layak jadi pemimpin bangsa itu harus mempunyai kredibilitas moral, visioner, spirit, dan kemampuan berkomunikasi. "Asal mememuhi persyaratan itu, siapa pun yang maju, walau bukan dari kaum muda PKS, kita akan dukung. Akan tetapi, antara persoalan bangsa dan pemimpin dari kaum muda yang dipilih itu harus nyambung. Ibarat ujian, jawabannya A, harus benar-benar ada kaitan, " tandasnya.
Budiman Sudjatmiko, yang sempat mengomentari figur calon presiden AS, Barack Obama, mengatakan, untuk bisa menjadi pemimpin bangsa ke depan, siapa pun harus mampu membangun dan merawat institusional building. Sebab, katanya, persoalan bangsa Indonesia saat ini adalah telah terjadinya kebangkrutan bangsa.
"Ini akibat kita terlalu percaya dengan pemimpin yang kaya, sementara kekayaan itu hasil dari pencurian. Dan lebih tragis lagi, ia itu pencuri kawakan. Kaum muda harus menghindari hal ini," ujarnya.
Sementara Khudori dalam paparannya mengatakan, kalau melihat sosok kaum muda, bayangan orang pasti PKS. "Kaum muda ke depan harus mengambil peran sesuai proporsinya. PKS adalah partai fenomenal, yang banyak diteliti," ujarnya. (NAL)

Sumber : KOMPAS